Angkat Bicara !

BBM Naik, Sakitnya tuh disini #NunjukKantong

Sebentar lagi BBM bakal naik,eh udah ding tepat 00:00 BBM resi naik dan hari ini sudah dengan harga baru. Kebijakan tak populis semacam ini kerap mengundang pro dan kontra. Genderang perang argumen antar pengamat dan pertaruhan keberpihakan pada rakyat sudah dimulai. Adu perspektif dan sudut pandang kajian kian mewarnai lapak-lapak diskusi, tapi hanya kedalaman nuranilah yang akan menentukan arah kebijakan selanjutnya. Dan semuanya, ada di tangan Pemerintahan baru kita, kabinet ‘Kerja, Kerja, & Kerja’-nya Jokowi-Jk.

Kenaikan BBM akan menciptakan titik equilibirium baru dalam pasar, biaya produksi naik, harga penjualan juga naik. Jika tidak diimbangi dengan kemampuan daya beli masyarakat, sudah tentu kebijakan ini semakin mensengsarakan rakyat.

Defisitnya APBN lantaran besarnya subsidi BBM yang dikeluarkan menjadi pemicu upaya pemerintah dalam “menormalisasi” keuangan negara, tercatat Rp 350 Triliun dikeluarkan pemerintah untuk subsidi energi atau sekitar Rp 276 Triliun dikhususkan subsidi BBM. Belum lagi angka pendapatan sektor migas merosot, sementara subsidi energi yang besar, seperti kata pepatah “besar pasak daripada tiang”. Ditambah anggapan ketidak-tepat-sasaranya pengguna BBM subsidi dilapangan menjadi alasan klasik yang tak kunjung ada solusinya.

Jika yang menjadi soal kenapa BBM harus dinaikkan adalah masalah diatas, maka dapat dikatakan bahwa pemerintahan saat ini tidak kreatif dalam menakar solusi. Menaikkan harga BBM sama saja dengan melimpahkan kesalah-urusan negara kepada rakyat, inilah wujud Neoliberalisme perekonomian. Sementara pihak asing sudah mengakar mencengkram sektor hulu hingga hilir perekonomian negara, maka menaikkan harga BBM tidak lain hanyalah bentuk kepatuhan pemerintah pada asing, bentuk ketundukkan terhadap kapitalisme global.

Solusi dengan pengalihan subsidi ke sektor Infrasruktur dan kesejahteraan sosial tidak lain hanyalah bentuk pembenaran terhadap kebijakan yang jelas-jelas akan menimbulkan dampak berkepanjangan ke segala bidang, bak efek domino yang saling berkaitan. Ditengah-tengah turunnya harga minyak dunia dari USD 107 per barel ke USD 80 per barel, justru sebuah anomali jika pemerintah menaikkan harga BBM. Belum lagi dampak inflasi yang ditengarai naiknya harga kebutuhan dan bahan pokok, ini akan memperburuk kondisi perekonomian, daya beli masyarakat menurun, dan inflasi merangkak naik di angka 3,1%.

Kebijakan mencabut subsidi BBM perlu dievaluasi ulang, mengingat dampak beruntun yang akan ditimbulkan dari kebijakan tersebut. Disatu sisi perlu adanya alternatif lain dalam menyikapi masalah krusial ini. Seharusnya pemerintah belajar dari sejarah yang terjadi di pemerintahan yang sudah-sudah, alih-alih meniru kebijakan lama dengan cara lama, mengingat kenaikan harga BBM ini bukanlah hal yang baru dan telah terjadi berkali-kali. Belum adanya pengembangan dan pemanfaatan riset dalam mencari alternatif energi terbaru, perbaikan sarana-prasarana transportasi umum guna memicu beralihnya masyarakat ke angkutan umum, peningkatan penarikan pajak investasi asing, serta usaha untuk menasionalisasi aset yang telah lama menggerogoti kekayaan negara – adalah bentuk pembiaran pemerintah terhadap masalah klasik yang tak kunjung usai. Tak pernah belajar, maunya yang instan – langsung beres.

Pencabutan subsidi BBM adalah tanda tak setianya pemerintah dalam membantu dan meringankan beban rakyat, tak ada tawaran lain untuk sebuah pengkhianatan selain sebuah Perlawanan. Dan, Tak ada perasaan lagi atas sebuah ketidaksetiaan, melainkan: Sakitnya Tuh Disini!.

#KAMMITolakBBMNaik