Teruntuk mereka yang (ber)jauh(an)_Azhar Nurn Ala

Kamu pasti takut sendiri. Aku juga. Kemarin, waktu kau bilang kau akan pergi jauh, aku makin takut. Ada semacam perih dalam hati yang membuat mataku dipaksa berair. Pipiku becek. Sayang, air mataku, sederas dan sebanyak apapun ia mengalir, tampaknya tak punya daya menahanmu untuk tetap di sini. Maka detik itu aku pura-pura tersenyum. Detik selanjutnya aku menyadari bahwa tersenyum sama sekali tak melegakan.

Bila kau mengerti. Dalam senyum yang kubuat-buat itu sebenarnya hatiku berdo’a: “Tuhan, tak bisakah Kau lewatkan aku dari cerita tentang keterpisahan ini?”. Belum sempat kudengar jawaban dari-Nya, lantas kususul dengan doa-doa senada: ”Tak bisakah waktu Kau putar lebih cepat sampai ia kembali?”, “Tak bisakah untuk kali ini saja, anugerahi hambamu ini kemampuan untuk memperbudak waktu?”. Entahlah, semoga saja dengan semakin beragam doa yang kuucap, Tuhan semakin ramah sebab punya banyak pilihan untuk dikabulkan.

Menjauh untuk menjaga. Kau tahu, sejujurnya aku benci konsep itu. Terlalu menyedihkan. Seperti perumpamaan klasik tentang matahari yang mencintai bumi dengan jaraknya. Terdengar tegar dan dewasa memang, tapi tetap saja menyedihkan. Aku mulai mengira, barangkali analogi itu cuma pembenaran teoritis atas tragedi ketidakmampuan mencintai—dengan alasan apapun. Atau boleh jadi semacam legitimasi bagi sebuah kerapuhan jiwa.

Apa yang bisa diharapkan, dari sebuah cinta yang bahkan oleh himpitan jarak saja ia jadi tak berdaya?

Apa yang bisa dibanggakan, dari cinta yang dengan segala macam pembenarannya menyerah pada sebuah keterpisahan, pasrah pada ketakberdayaan, sementara seluruh penjuru dunia memuja kedigdayaannya dengan kalimat ‘Amour Vincit Omnia’ ?

Kalau saja matahari, memang mencintai bumi. Dengan abadinya keberjarakan yang ditakdirkan pada mereka, mestinya telah redam bara yang ia punya. Terendam oleh air matanya sendiri. Seperti Qais yang cintanya tak pernah sampai pada Laila, tak ada yang bisa ia lakukan kecuali menangis. Lalu majnun-lah ia, sebelum akhirnya mati dalam sebuah keterpurukan. Apakah selalu begitu, benturan antara rasa dengan realitas yang beda rupa selalu mencipta luka?

Menjauh untuk menjaga.

Sampai pada baris tulisanku yang kesekian ini, aku masih belum bisa menerima konsep itu. Seperti konsep ‘rela menunggu untuk kebahagiaan’. Lagi-lagi, entahlah. Barangkali karena aku terlalu merindukanmu, hingga bahkan aku tak rela menunggu, terlebih lagi membuatmu menunggu.

Iklan

Pemarah

Dia pemarah penuh amarah
Dalam pelosok perih ia menari
Membuta tiap harap dalam jumpa
Baginya harap layaknya asap: pekat
menyesak dalam bara debar penuh riuh

Memeluk gaduh ia pada peluh
Di suatu ketika penuh duka ia membenci
Purnama menggadis pun ia mencaci,tak pandang siapa.

Kini ia…
Mewujud benci di tiap asa
Ia membenci
Dirinya dibenci
Ia dicaci
Hingga tiba cahaya di balik doa
Ia terlena

Berubah

Ada yang hilang dari dalam hatiku.

Sebuah goresan warna rose yang kecil

Dan…tak berbentuk.

Yang, dulu dapat memberikan arti secuil naruni hidup.

Pada…sebuah dilema rintih air mata.

Dimana dapat membutakan dan menyehatkan.

Saat bisa menggilakan dan menyuburkan.

Ada yang hilang dari dalam korneaku.

Sebuah titik putih yang hina namun melelehkan.

Dan…menjadi raksasa ketika sesosok insan tengah mengobarkan baranya.

Yang, tak berasa ketika mati dan fana

Pada…sebuah kemelut derita hati yang mencekik.

Dimana matahari dapat remuk ditelan kehilangan.

Saat bisa menyembuhkan dan mengacaukan.

Ada yang hilang dari senyumku.

Sebuah pena lancip penuh darah keemasan

Dan…tak berujung belati.

Yang, dapat hilang tak berbuih melawan ingresi hati.

Pada…frase kehidupan hingar-bingar merah mati.

Dimana dapat memisahkan derita dengan resah gulana.

Saat air mata mengucurkan biji-biji kegelapan.

Ada yang hilang dari wajahku.

Sebuah alihan wajah penuh coklat

Dan…tak manis dan nikmat

Yang, kini memburamkan ulu jiwa

Pada…tahap pencarian silhuet tapak senja

Dimana dapat menggali debu dalam karung.

Saat aku terkurung dalam tanda tanya.

Ada yang hilang dari napasku.

Sebuah mata kalbu yang berkaca mata

Dan…tak rusak

Yang, kini tengah tertidur entah dimana

Pada…sebuah dipan tak berwujud abstrak

Dimana kunci telah berjalan

Saat lubang nurani tengah berbicara.

Ada yang hilang dari hidupku.

Sebuah ilusi riak nafsu yang mendebar

Dan…melepaskan syaraf-syaraf keinsyafan

Yang, kini tak bisa digapai lima tiang

Pada…sebuah gerbang cahaya

Dimana bunga-bunga tumbuh mekar dan wangi

Saat pesona cinta iman menaungi mimpi-mimpi senja.

Share this:

saat hati bicara Jari meluah

***

Cinta kasih hanya impian..

tidak mungkin mampu ku realiti..

sadar diri tiada budi..

sadar diri insan bukan pekerti..

Biar hanya khayalan..

biar sekadar impian

rindu untuk bertemu..

rindu untuk berbicara menjerat pedih bagai sembilu..

Jika kau bukan untukku, mengapa hadirmu menjadi cinta dalam hidupku ??

kusadari langkahku yang inginkanmu lebih dari yg kau tahu..

Tapi, hati ini tak mau mencintai dan menyayangi selain dirimu..

Tolong yakinkah aku Bahwa diriku bukan seseorang yg kamu impikan dan kau harapkan untuk kau miliki dalam kisah cintamu..

Maafkan aku yg mengenalmu,

karena, dengan mengenalmu aku mencintaimu..

karena dengan mengenalmu aku menginginkan hatimu..

Aku bukan cinta yang kau harapkan dan mesti ku tak mampu memilikimu..

Aku tetap menyayangi mu sebatas yang aku mampu,

untuk merindukanmu disetiap helai nafasku..

Menyayangimu bukan berarti ku harus milikimu seutuhnya..

Biarlah kau tak bisa ku miliki untuk selamanya

asal kau bahagia dengan apa yang kau miliki yang tak kau temukan dariku..

Jika rindu ini bertahta di jiwaku,

aku harap biarlah untuk Allah..

Andai rindu ini menarik resah,

kepada-Mu aku pasrah..

Ya Allah, damaikanlah hati ini..

Biarlah resah menarik sepi..

Biarlah kecewa meratap pergi..

Biarlah kasih mengikat diri..

Ya Muhaimin kepada-Mu aku mengadu hati..

Hamba-Mu merindukan Rahmat kasih sayang-Mu..

Dan juga keredhaan-Mu Dalam hidupku ini..

Serikanlah taman hati bukan pada fikiran dan kemauanku,tapi pada redha-Mu..

Rapuh

Menjauh Rapuh

Langkahmu menjauh benamkan setitik asa
Menahan lajumu tuk tetap tinggal
Hanya buatku hilang akal
seperti berlabuh pada hati yang tak utuh: rapuh

Air mata tak rayakan apa-apa
Tetap menatap tanpa sembab
Namun
Ini hati memekik lirih
Disayat kepergian dirimu
Kepergian tanpa perayaan

Kini kepergianmu perlahan sesaki peparu
di tiap tarikan nafasku membau bayang
sosok yang kini terlalu jauh terlalu angkuh
Sosok dirimu

Ini menyiksa seperti tenggelam
pada lamunan matahari
Kan kutunggu waktu membawa luka jauh dariku
Kepergianmu kian jadi siksa nyata hidupku

Aku

Rapuh