Menyapa

Assalmualaikum saudara2ku…
Apa kabar semuanyaa?…

Hampir 1/2 tahun blog ini tak ada tulisan, pasalnya pasword dan email blog ini tak bisa di gunakan, lupa lebih tepatnya 😁 Aktivitas blog lumpuh dan tak berpenghuni..

Semoga dengan kembali aktifnya blog ini saya bisa silaturrahim kembali dengan penghuni blog yang lain…
Ramadhan penuh berkah semoga terjaga selalu silaturrahimnya yaa…

Prihal twitter

Ada jeritan seorang following
“Teh meuni pelit pisan, urang teh follow teteh geus saminggu teu follback follback, geus loba followerna kabiasaan teu follback nya teh, eta followers 1.332 following 391”

Waduh lagi lagi di protes, padahal bukan maksd pelit follback, hanya saja twitter saya kalau ada yang follow gak ada notif yang masuk, kecuali mention baru masuk, maknnya gak tau siapa ajah yang follow.

Kadang hal kecil yang terjadi di media sosial akan lebih besar dampaknya meski mereka hanya jadi penonton, kenapa?.. Ya karna mereka menilai dari apa yang mereka liat, tapi bukan apa yang mereka tau alasannya. Berusaha lebih bijak dalam memandang sebuah anggapan orang lain 🙂

#JanganLupaBahagia
#JanganLupaBersyukur
#JanganLupaSenyum

Keteguhan Hati Seorang Istri

Sore itu, menunggu kedatangan teman yang akan menjemputku di masjid ini seusai ashar, seorang akhwat datang, tersenyum dan duduk di sampingku, mengucapkan salam, sambil berkenalan dan sampai pula pada pertanyaan itu,
“Anty sudah menikah…?”
“Belum mbak”, jawabku.
Kemudian akhwat itu bertanya lagi, “Kenapa…?”
Hanya bisa ku jawab dengan senyuman… ingin kujawab karena masih kuliah, tapi rasanya itu bukan alasan.

“Mbak menunggu siapa…?”, aku mencoba bertanya.
“Nunggu suami”, jawabnya. Aku melihat ke samping kirinya, sebuah tas laptop dan sebuah tas besar lagi yang tak bisa kutebak apa isinya. Dalam hati bertanya- tanya, dari mana mbak ini…?
Sepertinya wanita karir. Akhirnya kuberanikan juga untuk bertanya,
“Mbak kerja di mana…?”, entahlah keyakinan apa yg meyakiniku bahwa mbak ini seorang pekerja, padahal setahuku, akhwat-akhwat seperti ini kebanyakan hanya mengabdi sebagai ibu rumah tangga.

“Alhamdulillah, 2 jam yang lalu saya resmi tidak bekerja lagi…” , jawabnya dengan wajah yang aneh menurutku, wajah yang bersinar dengan ketulusan hati.
“Kenapa…?”, tanyaku lagi.
Dia hanya tersenyum dan menjawab, “Karena inilah cara, satu cara yang bisa membuat saya lebih hormat pada suami…!”, jawabnya tegas.

Aku berfikir sejenak, apa hubungannya…? Heran. Lagi-lagi dia hanya tersenyum.
Ukhty, boleh saya cerita sedikit…? Dan saya berharap ini bisa menjadi pelajaran berharga buat kita para wanita yang Insya Allah akan didatangi oleh ikhwan yang sangat mencintai akhirat.

“Saya bekerja di kantor, mungkin tak perlu saya sebutkan nama kantornya. Gaji saya 7 juta/bulan. Suami saya bekerja sebagai penjual roti bakar di pagi hari, es cendol di siang hari. Kami menikah baru 3 bulan, dan kemarinlah untuk pertama kalinya saya menangis karena merasa durhaka padanya. Waktu itu jam 7 malam, suami baru menjemput saya dari kantor, hari ini lembur, biasanya sore jam 3 sudah pulang. Saya capek sekali ukhty. Saat itu juga suami masuk angin dan kepalanya pusing. Dan parahnya saya juga lagi pusing. Suami minta diambilkan air minum, tapi saya malah berkata, “Abi, umi pusing nih, ambil sendirilah”.

Pusing membuat saya tertidur hingga lupa sholat Isya. Jam 23.30 saya terbangun dan cepat-cepat sholat, Alhamdulillah pusing pun telah hilang. Beranjak dari sajadah, saya melihat suami saya tidur dengan pulasnya. Menuju ke dapur, saya liat semua piring sudah bersih tercuci. Siapa lagi yang mencucinya kalo bukan suami saya…?

Terlihat lagi semua baju kotor telah di cuci. Astagfirullah, kenapa abi mengerjakan semua ini…? Bukankah abi juga pusing tadi malam…? Saya segera masuk lagi ke kamar, berharap abi sadar dan mau menjelaskannya, tapi rasanya abi terlalu lelah, hingga tak sadar juga. Rasa iba mulai memenuhi jiwa saya, saya pegang wajah suami saya itu, ya Allah panas sekali pipinya, keningnya, Masya Allah, abi deman, tinggi sekali panasnya. Saya teringat atas perkataan terakhir saya pada suami tadi. Hanya disuruh mengambilkan air minum saja, saya membantahnya. Air mata ini menetes, betapa selama ini saya terlalu sibuk di luar rumah, tidak memperhatikan hak suami saya.”

Subhanallah, aku melihat mbak ini cerita dengan semangatnya, membuat hati ini merinding. Dan kulihat juga ada tetesan air mata yang diusapnya.
“Anty tau berapa gaji suami saya…? Sangat berbeda jauh dengan gaji saya. Sekitar 600-700 ribu/bulan. 10 x lipat dari gaji saya. Dan malam itu saya benar-benar merasa durhaka pada suami saya. Dengan gaji yang saya miliki, saya merasa tak perlu meminta nafkah pada suami, meskipun suami selalu memberikan hasil jualannya itu pada saya dan setiap kali memberikan hasil jualannya, ia selalu berkata “Umi… ini ada titipan rezeki dari Allah. Diambil ya. Buat keperluan kita. Dan tidak banyak jumlahnya, mudah-mudahan umi ridho”, begitu katanya.

Kenapa baru sekarang saya merasakan dalamnya kata-kata itu. Betapa harta ini membuat saya sombong pada nafkah yang diberikan suami saya”, lanjutnya, “Alhamdulillah saya sekarang memutuskan untuk berhenti bekerja, mudah-mudahan dengan jalan ini, saya lebih bisa menghargai nafkah yang diberikan suami. Wanita itu begitu susah menjaga harta, dan karena harta juga wanita sering lupa kodratnya, dan gampang menyepelekan suami.”, lanjutnya lagi, tak memberikan kesempatan bagiku untuk berbicara.

“Beberapa hari yang lalu, saya berkunjung ke rumah orang tua, dan menceritakan niat saya ini. Saya sedih, karena orang tua dan saudara-saudara saya tidak ada yang mendukung niat saya untuk berhenti berkerja. Malah mereka membanding-bandingkan pekerjaan suami saya dengan orang lain.”
Aku masih terdiam, bisu, mendengar keluh kesahnya. Subhanallah, apa aku bisa seperti dia…? Menerima sosok pangeran apa adanya, bahkan rela meninggalkan pekerjaan. “Kak, kita itu harus memikirkan masa depan. Kita kerja juga untuk anak-anak kita kak. Biaya hidup sekarang ini besar.

Begitu banyak orang yang butuh pekerjaan. Nah kakak malah pengen berhenti kerja. Suami kakak pun penghasilannya kurang. Mending kalo suami kakak pengusaha kaya, bolehlah kita santai-santai aja di rumah. Salah kakak juga sih, kalo mau jadi ibu rumah tangga, seharusnya nikah sama yang kaya. Sama dokter muda itu yang berniat melamar kakak duluan sebelum sama yang ini. Tapi kakak lebih milih nikah sama orang yang belum jelas pekerjaannya. Dari 4 orang anak bapak, cuma suami kakak yang tidak punya penghasilan tetap dan yang paling buat kami kesal, sepertinya suami kakak itu lebih suka hidup seperti ini, ditawarin kerja di bank oleh saudara sendiri yang ingin membantu pun tak mau, sampai heran aku, apa maunya suami kakak itu”. Ceritanya kembali, menceritakan ucapan adik perempuannya saat dimintai pendapat.

“Anty tau, saya hanya bisa nangis saat itu. Saya menangis bukan karena apa yang dikatakan adik saya itu benar, bukan karena itu. Tapi saya menangis karena imam saya dipandang rendah olehnya. Bagaimana mungkin dia meremehkan setiap tetes keringat suami saya, padahal dengan tetesan keringat itu, Allah memandangnya mulia. Bagaimana mungkin dia menghina orang yang senantiasa membangunkan saya untuk sujud di malam hari. Bagaimana mungkin dia menghina orang yang dengan kata-kata lembutnya selalu menenangkan hati saya. Bagaimana mungkin dia menghina orang yang berani datang pada orang tua saya untuk melamar saya, padahal saat itu orang tersebut belum mempunyai pekerjaan. Bagaimana mungkin seseorang yang begitu saya muliakan, ternyata begitu rendah di hadapannya hanya karena sebuah pekerjaan.

Saya memutuskan berhenti bekerja, karena tak ingin melihat orang membanding-bandingkan gaji saya dengan gaji suami saya. Saya memutuskan berhenti bekerja juga untuk menghargai nafkah yang diberikan suami saya. Saya juga memutuskan berhenti bekerja untuk memenuhi hak-hak suami saya. Semoga saya tak lagi membantah perintah suami. Semoga saya juga ridho atas besarnya nafkah itu. Saya bangga ukhti dengan pekerjaan suami saya, sangat bangga, bahkan begitu menghormati pekerjaannya, karena tak semua orang punya keberanian dengan pekerjaan itu. Kebanyakan orang lebih memilih jadi pengangguran dari pada melakukan pekerjaan yang seperti itu. Tapi lihatlah suami saya, tak ada rasa malu baginya untuk menafkahi istri dengan nafkah yang halal.

Itulah yang membuat saya begitu bangga pada suami saya. Semoga jika anty mendapatkan suami seperti saya, anty tak perlu malu untuk menceritakan pekerjaan suami anty pada orang lain. Bukan masalah pekerjaannya ukhty, tapi masalah halalnya, berkahnya, dan kita memohon pada Allah, semoga Allah menjauhkan suami kita dari rizki yang haram”. Ucapnya terakhir, sambil tersenyum manis padaku. Dia mengambil tas laptopnya.. bergegas ingin meninggalkannku.

Kulihat dari kejauhan seorang ikhwan dengan menggunakan sepeda motor butut mendekat ke arah kami, wajahnya ditutupi kaca helm, meskipun tak ada niatku menatap mukanya. Sambil mengucapkan salam, meninggalkanku. Wajah itu tenang sekali, wajah seorang istri yang begitu ridho.

Ya Allah…. Sekarang giliran aku yang menangis. Hari ini aku dapat pelajaran paling baik dalam hidupku.

3 Pertanyaan Pemuda Shalih

Ini adalah sebuah kisah tentang seorang pemuda shalih yang sedang mencari calon pendamping hidupnya. Meskipun belum diketahui pasti apakah ini kisah nyata atau fiktif, namun semoga pelajaran yang terkandung di dalamnya dapat bermanfaat bagi para muslimah terutama yang belum menikah. Semoga kisah ini dapat menginspirasi dan menjadi renungan bagi para muslimah untuk selalu memperbaiki diri.

Ada seorang pemuda yang shalih, tampan, pendidikannya baik dan umurnya telah mencukupi untuk menikah. Kedua orangtuanya telah memberikan usulan calon istri padanya, namun semuanya ditolak oleh sang pemuda shalih. Tiap kali ada wanita yang dihadirkan di rumahnya, namun jawabannya selalu sama, “Dia bukanlah orangnya!”

Pemuda itu mengatakan bahwa kriteria yang diinginkannya adalah sosok muslimah yang religius dan taat menjalankan agamanya (shalihah). Kemudian orangtuanya menemukan sosok wanita yang dirasa memenuhi kriteria pemuda itu. Wanita yang dimaksud memang terlihat religius dan juga cantik.

Akhirnya wanita itu dipertemukan dengan pemuda shalih tersebut. Kemudian mereka berbincang-bincang dan pemuda tersebut mempersilakan sang gadis untuk bertanya apa saja pada dirinya. Kemudian, dengan semangat sang gadis banyak bertanya tentang pemuda tersebut. Tak satupun pertanyaan yang tidak dijawab oleh pemuda itu dengan ramah dan sopan, sehingga wanita itu merasa gembira. Namun, setelah cukup lama mengobrol si wanita mulai bosan dan berharap pemuda itu ganti menanyainya.

Lalu, pemuda itu berkata, “Aku hanya akan menanyakan tiga hal padamu,”

Sang Wanita cukup girang, hanya tiga? Okelah, silakan.

“Siapakah yang paling kamu cintai, yang kamu cintai melebihi siapapun yang ada di dunia ini?”

Wanita itu menjawab dengan mantap,”Ibuku,” Ini pertanyaan yang mudah, pikir si gadis.

“Kamu bilang, kamu banyak membaca Al-Qur’an, bisakah kamu memberitahuku surat mana yang kamu ketahui artinya?”

Wanita itu tersipu malu, dia tidak yakin akan menjawab karena dia belum banyak belajar tentang arti surat-surat dalam Al Qur’an yang dibacanya karena sibuk. Dia berjanji akan memelajarinya nanti.

“Aku telah dilamar untuk menikah, dengan gadis-gadis yang jauh lebih cantik dan pintar daripada dirimu, Mengapa saya harus menikahimu?”

Mendengar pertanyaan ketiga ini, sang wanita meradang dan mengadukan hal itu kepada orangtuanya perihal pertanyaan sang pemuda. Ia mengatakan pada orangtuanya bahwa dia tidak ingin menikahi pemuda itu karena dia telah menghina kecantikan dan kepintarannya.

Kemudian orangtua pemuda itu bertanya mengapa pemuda itu menyinggung perasaan gadis itu dan membuatnya sedemikian marah? Pemuda itu telah menyiapkan jawabannya sendiri.

Pertanyaan pertama, gadis itu mengatakan bahwa yang paling dia cintai adalah ibunya. Orangtuanya bertanya, “Apa yang salah dengan hal itu?” Pemuda itu menjawab, “Tidaklah dikatakan Muslim, hingga dia mencintai Allah dan RasulNya (shalallahu’alaihi wa sallam) melebihi siapapun di dunia ini”. Jika seorang wanita mencintai Allah dan Nabi (shalallahu’alaihi wa sallam) lebih dari siapapun, dia akan mencintaiku dan menghormatiku, dan tetap setia padaku, karena cinta itu, dan ketakutannya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan kami akan berbagi cinta ini, karena cinta ini adalah yang lebih besar daripada nafsu untuk kecantikan.

Pertanyaan kedua, wanita itu bilang dia sibuk sehingga tidak sempat belajar Al Qur’an. Maka aku pikir semua manusia itu mati, kecuali mereka yang memiliki ilmu. Dia telah hidup selama 20 tahun dan tidak menemukan waktu untuk mencari ilmu, mengapa aku harus menikahi seorang wanita yang tidak mengetahui hak-hak dan kewajibannya, dan apa yang akan dia ajarkan kepada anak-anakku, kecuali bagaimana untuk menjadi lalai, karena wanita adalah madrasah (sekolah) dan guru terbaik. Dan seorang wanita yang tidak memiliki waktu untuk Allah, tidak akan memiliki waktu untuk suaminya.

Pertanyaan ketiga, wanita itu marah ketika aku bertanya apa yang membuatnya pantas untuk aku nikahi sedangkan telah banyak wanita yang datang lebih cantik lagi pintar daripada dia. Orangtanya berkata bahwa itu sesuatu yang menyebalkan bagi seorang wanita. Pemuda itu menjawab, “Nabi (shalallahu’alaihi wa sallam) mengatakan ‘Jangan marah, jangan marah, jangan marah’, ketika ditanya bagaimana untuk menjadi shalih, karena kemarahan adalah datangnya dari setan. Jika seorang wanita tidak dapat mengontrol kemarahannya dengan orang asing yang baru saja ia temui, apakah kalian pikir dia akan dapat mengontrol amarah terhadap suaminya?

Pelajaran yang dapat diambil dari kisah diatas adalah dalam sebuah pernikahan hendaknya orang lebih mementingkan ilmu, bukan kecantikan. Beramal, bukan hanya berceramah atau membaca. Mudah memaafkan dan tidak gampang marah. Keshalihan dan ketaatan kepada Allah, bukan hanya nafsu.

Sedangkan memilih pasangan hendaknya adalah orang yang mencintai Allah SWT di atas segalanya yang ada di dunia ini, mencintai Rasulullah Saw di atas manusia yang lain, Memiliki ilmu islam dan mau beramal dengan ilmu tersebut, dapat mengontrol kemarahan, dan mudah diajak musyawarah atau berkomunikasi.

Rasulullah shalalahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya:

“Wanita dinikahi karena empat hal, (pertama) karena hartanya, nasabnya, kecantikannya, dan agamanya. Carilah yang agamanya baik, jika tidak maka kamu akan tersungkur fakir”. (HR. Bukhori no. 5090, Muslim no. 1466)

Semoga kisah diatas dapat memberi hikmah dan manfaat bagi kita semua. Aamiin.

Penyambutan Jokowi Ke Lampung !

Angkat Bicara !

BBM Naik, Sakitnya tuh disini #NunjukKantong

Sebentar lagi BBM bakal naik,eh udah ding tepat 00:00 BBM resi naik dan hari ini sudah dengan harga baru. Kebijakan tak populis semacam ini kerap mengundang pro dan kontra. Genderang perang argumen antar pengamat dan pertaruhan keberpihakan pada rakyat sudah dimulai. Adu perspektif dan sudut pandang kajian kian mewarnai lapak-lapak diskusi, tapi hanya kedalaman nuranilah yang akan menentukan arah kebijakan selanjutnya. Dan semuanya, ada di tangan Pemerintahan baru kita, kabinet ‘Kerja, Kerja, & Kerja’-nya Jokowi-Jk.

Kenaikan BBM akan menciptakan titik equilibirium baru dalam pasar, biaya produksi naik, harga penjualan juga naik. Jika tidak diimbangi dengan kemampuan daya beli masyarakat, sudah tentu kebijakan ini semakin mensengsarakan rakyat.

Defisitnya APBN lantaran besarnya subsidi BBM yang dikeluarkan menjadi pemicu upaya pemerintah dalam “menormalisasi” keuangan negara, tercatat Rp 350 Triliun dikeluarkan pemerintah untuk subsidi energi atau sekitar Rp 276 Triliun dikhususkan subsidi BBM. Belum lagi angka pendapatan sektor migas merosot, sementara subsidi energi yang besar, seperti kata pepatah “besar pasak daripada tiang”. Ditambah anggapan ketidak-tepat-sasaranya pengguna BBM subsidi dilapangan menjadi alasan klasik yang tak kunjung ada solusinya.

Jika yang menjadi soal kenapa BBM harus dinaikkan adalah masalah diatas, maka dapat dikatakan bahwa pemerintahan saat ini tidak kreatif dalam menakar solusi. Menaikkan harga BBM sama saja dengan melimpahkan kesalah-urusan negara kepada rakyat, inilah wujud Neoliberalisme perekonomian. Sementara pihak asing sudah mengakar mencengkram sektor hulu hingga hilir perekonomian negara, maka menaikkan harga BBM tidak lain hanyalah bentuk kepatuhan pemerintah pada asing, bentuk ketundukkan terhadap kapitalisme global.

Solusi dengan pengalihan subsidi ke sektor Infrasruktur dan kesejahteraan sosial tidak lain hanyalah bentuk pembenaran terhadap kebijakan yang jelas-jelas akan menimbulkan dampak berkepanjangan ke segala bidang, bak efek domino yang saling berkaitan. Ditengah-tengah turunnya harga minyak dunia dari USD 107 per barel ke USD 80 per barel, justru sebuah anomali jika pemerintah menaikkan harga BBM. Belum lagi dampak inflasi yang ditengarai naiknya harga kebutuhan dan bahan pokok, ini akan memperburuk kondisi perekonomian, daya beli masyarakat menurun, dan inflasi merangkak naik di angka 3,1%.

Kebijakan mencabut subsidi BBM perlu dievaluasi ulang, mengingat dampak beruntun yang akan ditimbulkan dari kebijakan tersebut. Disatu sisi perlu adanya alternatif lain dalam menyikapi masalah krusial ini. Seharusnya pemerintah belajar dari sejarah yang terjadi di pemerintahan yang sudah-sudah, alih-alih meniru kebijakan lama dengan cara lama, mengingat kenaikan harga BBM ini bukanlah hal yang baru dan telah terjadi berkali-kali. Belum adanya pengembangan dan pemanfaatan riset dalam mencari alternatif energi terbaru, perbaikan sarana-prasarana transportasi umum guna memicu beralihnya masyarakat ke angkutan umum, peningkatan penarikan pajak investasi asing, serta usaha untuk menasionalisasi aset yang telah lama menggerogoti kekayaan negara – adalah bentuk pembiaran pemerintah terhadap masalah klasik yang tak kunjung usai. Tak pernah belajar, maunya yang instan – langsung beres.

Pencabutan subsidi BBM adalah tanda tak setianya pemerintah dalam membantu dan meringankan beban rakyat, tak ada tawaran lain untuk sebuah pengkhianatan selain sebuah Perlawanan. Dan, Tak ada perasaan lagi atas sebuah ketidaksetiaan, melainkan: Sakitnya Tuh Disini!.

#KAMMITolakBBMNaik

Tips Kelar Skripsi :)

7 TIPS KELAR SKRIPSI

1. Kuatkan tekad. Sayang kan? Udah 4 tahun lebih kuliah, masa kalah di akhir. Mesti kelar nih!
2. Pasang poto kedua orang tua di dinding depan meja komputer. Coba lihat wajah mereka yang udah berkorban segalanya agar bisa melihatmu jadi seorang sarjana.
3. Gaul dengan teman yang udah selesai skripsi, jangan yang malas ngerjain. Efek dari teman itu sangat berpengaruh.
4. Off sementara kegaiatan yang nggak menunjang lulus. Misalnya 2 bulan cuti dulu kerja, atau serahkan dulu usaha, juga kegiatan lain.
5. Perbanyak literatur dan datang ke perpustakaan. Walaupun malas, paksain aja.
6. Bersabar dan ikhlas menghadapi semua tipe dosen. Ada dosen yang super sibuk, susah ACC, atau perfectionis. Yah, nikmati aja , itu seninya.
7. Yang terpenting, semakin dekat sama Allah. Tahajud, sholat tepat waktu, dan perbanyak sedekah. Tekadkan jadi kebaiasaan.

Semoga Sahabat bisa segera lulus skripsi, sukses berkarir, dan mudah mendapatkan jodoh terbaik. Aamiin

*Boleh di-SHARE

Setia Furqon Kholid
Jangan Kuliah! Kalau Gak Sukses